Materi Teks Ulasan Film/Drama - Menyunting isi sesuai dengan struktur isi teks film/drama




Tujuan
Siswa dapat menyunting teks film/drama sesuai dengan struktur dan kaidah teks baik secara lisan maupun tulisan.

Pada materi terdahulu, kalian sudah mempelajari tentang struktur dan kaidah kebahasaan teks ulasan film dan drama. Kali ini, kalian akan menyunting teks ulasan film dan drama berdasarkan struktur isi.

Teks ulasan film atau drama harus memilki bangunan (struktur) teks yang berbeda dengan teks lain . Teks ulasan film/drama diawali oleh orientasi (orientation), lalu tafsiran isi (interpretative recount), kemudian evaluasi (evaluation). Pada akhirnya, teks ditutup dengan rangkuman (evaluative summation).

Dengan demikian, struktur yang membangun sebuah teks ulasan itu adalah orientasi ^ tafsiran isi ^ evaluasi ^ rangkuman.
• Bagian orientasi berisi gambaran umum karya yang akan diulas. Gambaran umum karya tersebut bisa berupa paparan identitas.
• Tafsiran isi memuat pandangan pengulasnya sendiri mengenai karya yang diulas. Pada bagian ini penulis biasanya membandingkan karya tersebut dengan karya lain yang dianggap mirip. Penulis juga menilai kekurangan dan kelebihan karya yang diulas.
• Pada bagian evaluasi dilakukan penilaian terhadap karya, penampilan, dan produksi. Bagian tersebut berisi gambaran terperinci suatu karya atau benda yang diulas. Hal ini bisa berupa bagian, ciri, dan kualitas karya tersebut.
• Terakhir, pada bagian rangkuman, penulis memberikan ulasan akhir berupa simpulan karya tersebut

Jika sebuah teks ulasan film/drama tidak memenuhi struktur tersebut, teks ulasan itu kurang bagus sehingga perlu direvisi.


Belajar Ikhlas dari “Hafalan Shalat Delisa”

1.  Pada 26 Desember, pagi hari, dalam sebuah ruang sekolah di Lhok Nga, desa kecil di Pantai Aceh, Delisa (Chantiq Schagerl) berusaha khusyu menjalankan praktik shalat di depan Ustad Rahman dan Ustazah Nur yang mengujinya. Ibunya, Ummi Salamah (Nirina Zubir), bersama beberapa ibu lainnya menyaksikan dari luar melalui jendela. Ucapan Sang Ustad sebelumnya agar dia tetap fokus pada shalat meski apapun yang terjadi di sekelilingnya benar-benar ditaati gadis kecil itu. Sehingga saat gempa mengguncang dan plafon atap mulai berjatuhan, bahkan ketika ustad Rahman dan guru penguji lain lari keluar , Delisa tidak beranjak. Dia tetap membaca doa shalat yang dihafalnya. Air bah tsunami pun meluluhlantakkan tempat itu dan menenggelamkan Delisa.

2.  Scene yang dahsyat dari film “Hafalan Shalat Delisa”—jangan bandingkan dengan teknologi 3D film Amerika untuk mendeskripsikan tsunami tersebut— membuat saya terpukau. Seandainya saja saya yang shalat pada saat terjadi bencana, apakah saya akan lari atau tetap shalat dengan risiko mati dalam keadaan shalat sulit dibayangkan.

3.  Film ini dibuka dengan beberapa adegan manis dua hari sebelum malapetaka itu. Delisa tinggal bersama Ummi dan tiga kakaknya, Fatimah (Ghina Salsabila), dan si kembar Aisyah (Reska Tania Apriadi) dan Zahra (Riska Tania Apriadi). Delisa digambarkan sulit melakukan hafalan shalat, dibangunkan shalat subuh juga susah. Umminya sampai menjanjikan sebuah kalung berhuruf D yang dibeli dari toko milik Koh Acan (dimainkan dengan menarik oleh Joe P Project) jika Delisa lulus ujian praktik shalat. Akting Nirina Zubir mampu menghidupkan spontanitas seorang ibu ketika Aisyah cemburu pada Delisa atau Delisa sedang sedih sehingga kekakuan akting anak-anaknya tidak terlihat lagi.

4.  “Hafalan Shalat Delisa” tidak menyuguhkan melodrama yang klise. Ada kesedihan di dalamnya, tetapi hidup tetap harus berjalan. Dengan kaki satu, Delisa berupaya tegar, bahkan ia mampu membangkitkan semangat Umam yang remuk dengan cara mengajaknya bermain bola. Gadis ini juga memberi inspirasi pada ustad Rahman yang sempat patah semangat.

5.  Kehadiran Koh Acan juga menghidupkan suasana. Hal ini merupakan human interest dalam film ini. Adegan yang menyegarkan terjadi ketika Koh Acan menawarkan bakmi buatannya pada Delisa di kamp pengungsian.

6.  Film ini menuju sebuah ending apakah umminya selamat atau setidaknya ditemukan tubuhnya. Hal ini juga begitu menggetarkan. Namun, apapun itu Delisa digambarkan sebagai sosok yang ikhlas.

7.  Film yang diangkat dari novel laris karya Tere Liye ini cocok diputar untuk menyambut peringatan tsunami sekaligus juga hari ibu.

Hasil menyunting
Teks di atas tidak memiliki orientasi. Orientasi adalah gambaran umum tentang karya sastra. Teks ulasan tersebut dibuka dengan cerita hafalan shalat Delisa sehingga perlu direvisi diberi tambahan gambaran umum tentang film Hafalan Shalat Delisa.

Paragraf 1-5 merupakan tafsiran isi yaitu mengulas bagian-bagian cerita berdasarkan sudut pandang penulis. Paragraf 6 berupa evaluasi dan paragraf 7 merupakan rangkuman.

Poin Penting
Struktur teks ulasan adalah orientasi^tafsiran isi ^ evaluasi ^ rangkuman. Jika tidak memenuhi unsur tersebut berarti bukan teks ulasan yang baik.


tags
teks ulasan drama dan film
pengertian teks ulasan drama dan film
contoh teks ulasan drama dan film
tujuan teks ulasan drama dan film
struktur teks ulasan drama dan film
kaidah dan ciri kebahasaan teks ulasan drama dan film
Next
This Is The Current Newest Page

You might also like

0 Comments


EmoticonEmoticon