MASIGNCLEAN103

Materi Teks Ulasan Film/Drama - Analisis isi teks ulasan film/drama



Teks Ulasan Film/Drama
Analisis isi teks ulasan film/drama



Tujuan
Siswa mampu menganalisis teks ulasan film/drama baik melalui lisan maupun tulisan.

Masih ingat tentang struktur dan ciri kebahasaan teks ulasan? Masih ingatkah pula tujuan mengapa kita membuat teks ulasan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut pernah kita singgung pada dua materi sebelumnya.
Pada materi kali ini, kita akan menganalisis isi teks ulasan secara lebih mendalam dengan memperhatikan bagian struktur, ciri kebahasaan, hingga kritik-kritik yang muncul dalam teks ulasan. Perlu kembali kita pahami bahwa isi teks ulasan adalah kritik dan tanggapan terhadap suatu karya. Selain itu, untuk memahami isi yang terkandung dalam teks ulasan, kita diharuskan mampu menginterpretasi makna-makna kata yang terkandung di dalamnya.

Perhatikanlah teks ulasan naskah drama “Zetan” karya Putu Wijaya di bawah ini!
  1. Putu mampu untuk bermain-main dengan sebuah ide dengan kebebasan penuh dan dengan kenakalan yang liar, sengaja dan tidak dibuat-buat dan mengesankan otentik. Demikianlah yang dikatakan oleh Kleden mengenai Putu Wijaya. Saat membaca naskah dramanya berjudul “Zetan”, saya merasakan pernyataan tersebut tidak berlebihan. Monolog yang diucapkan oleh tokoh Guru dalam drama ini begitu mengalir tanpa putus. Sekalipun ada hela yang cukup panjang saat terjadinya lakuan, suasana yang muncul seakan juga ikut bercerita.
  2. Tema yang ia sajikan begitu mencolok. Ia menggugah dendam kesumat kita tentang bentuk pendidikan di tanah air yang diekploitasi menjadi semacam komoditas barang dagangan. Bentuk pendidikan bobrok yang dilukiskan oleh kekesalan-kekesalan yang diumpat tokoh Guru. Dilukiskan di awal cerita bahwa istri dan pembantu-pembantunya tidak pernah sekali pun berkata, hanya Guru yang berceloteh ini itu. Kebisuan tokoh-tokoh selain Guru memberikan dua pertanyaan (atau pilihan). Apakah karena mereka tidak memahami apa yang disampaikan Guru atau mereka tidak mampu bertindak apa-apa? Atau bisa jadi semuanya benar?
  3. Inilah bentuk pemahaman kita terhadap dunia pendidikan Indonesia yang dicoba dijelaskan oleh Putu Wijaya. Kita merasa bahwa kita memiliki hubungan dengannya, ikut serta mengecap prosesnya, membayar untuk mendapatkannya, berada di dalamnya dan merasa dekat. Namun, di sisi lain kita tak paham dan tak mampu bertindak apa pun untuk mengubah kondisi itu semua.
  4. “Zetan” adalah belati berbulu yang siap menusuk pola pikir kita, tetapi sekaligus membuat kita tertawa dengan pedih. Terlebih saat monolog berubah menjadii dialog antara Guru dan Zetan. Pada babak ini, guru dilukiskan sebagai sosok yang tidak sempurna. Guru bisa salah, bisa mencaci, bisa sebal.
  5. Hanya saja, inti cerita yang awalnya seperti mengajak kita menelaah dunia pendidikan kemudian meluas dan seperti kesetanan (mungkin agar sesuai dengan judul), cerita ini mencaci maki apapun: politik, sejarah, hingga undang-undang. Ini mungkin alasan mengapa Kleden menganggap Putu liar tak terkendali. Kaya ide, tetapi bisa membuat pembaca/penonton bingung untuk mencerna apa yang diinginkan Putu.
  6. Di sisi lain, kita tersihir dan tak berani menghentikan rasa ingin tahu kita terhadap bagaimana cerita akan berakhir. Membaca karya Putu Wijaya membuat kita belajar siap menerima segala keadaan.
Setelah membaca teks ulasan di atas, kita mengetahui teks tersebut tersusun ke dalam bagian-bagian yang terstruktur. Bagian 1 termasuk ke dalam bagian orientasi. Bagian 2 dan 3 termasuk ke dalam bagian tafsiran isi. Bagian 4 dan 5 masuk ke dalam bagian evaluasi. Bagian 6 masuk ke dalam rangkuman.

Dari ciri kebahasaan, ada beberapa hal yang perlu kita analisis:
- menemukan unsur kebahasaan. Dalam BSE, unsur kebahasaan yang dimaksud adalah penggunaan verba, sinonim, antonim, nomina, pronomina, adjektiva, konjungsi, dan preposisi, serta kalimat simpleks dan kompleks.
- menginterpretasi makna kata yang digunakan agar pemahaman dapat tercapai.

Berikut adalah penjabarannya.
1. tidak dibuat-buat dan mengesankan otentik
Kata otentik di atas mengandung arti yang sama dengan orisinalitas atau asli. Dalam hal ini, Putu Wijaya tidak berlebihan dan apa adanya dalam menggambarkan suasana konflik.
2. menggugah dendam kesumat kita tentang bentuk pendidikan di tanah air yang diekploitasi.
Arti kata dendam kesumat pada teks di atas adalah adanya rasa benci yang sangat mendalam karena dunia pendidikan Indonesia dieksploitasi. Kata eksploitasi memiliki makna didayagunakan. Kata ini terkadang memiliki makna konotatif yang buruk, yaitu pendayagunaan sewenang-wenang atau berlebihan.
3. belati berbulu yang siap menusuk pola pikir kita
Kalimat ini mengandung banyak makna konotatif seperti belati berbulu dan menusuk.
Kata belati berbulu adalah metafor untuk menunjukkan suatu hal yang mampu memberikan dua rasa yang bertentangan, sedangkan kata menusuk di sini menggunakan majas asosiasi. Makna yang dihasilkan bisa bermakna menyerang atau menyadarkan diri dan memberi pemahaman yang menyakitkan.
Demikian adalah beberapa contoh cara menginterpretasi dan menganalisis isi teks ulasan. 

Poin penting
Terdapat beberapa hal yang perlu kita lakukan dalam menganalisis isi sebuah teks ulasan. Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mampu menunjukkan bagian-bagian struktur dalam teks ulasan lalu memahaminya berdasarkan isi dan tujuan setiap bagian. Hal yang kedua adalah menganalisis ciri kebahasaan yang digunakan lalu menginterpretasikan makna kata-kata yang dianggap penting atau mengandung makna konotatif menjadi denotatif.


tags
teks ulasan drama dan film
pengertian teks ulasan drama dan film
contoh teks ulasan drama dan film
tujuan teks ulasan drama dan film
struktur teks ulasan drama dan film
kaidah dan ciri kebahasaan teks ulasan drama dan film

Share This :
hanszt

Semoga selalu suport blog ini dengan berkomentar dengan bijak dan membangun