<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- iklan link --> <ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-client="ca-pub-3782949346711763" data-ad-slot="1666333210" data-ad-format="link" data-full-width-responsive="true"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>
MASIGNCLEAN103

Materi Teks Ulasan Film/Drama - Perbandingan struktur isi dan ciri bahasa dua teks film/drama



Teks Ulasan Film/Drama
Perbandingan struktur isi dan ciri bahasa dua teks film/drama




Tujuan
Siswa mampu membandingkan teks ulasan film/drama baik melalui lisan maupun tulisan

Kegiatan membandingkan dua teks drama/film ini dapat kita lakukan dengan menganalisis dan menilai unsur-unsur yang muncul dalam drama/film. Hasil analisis dan penilaian inilah yang kita sebut dengan teks ulasan. Teks ulasan mengandung berbagai macam tanggapan dan komentar kita terhadap unsur-unsur intrinsik karya sastra, seperti tema, amanat, latar, alur, tokoh, penokohan, dan juga sudut pandang, termasuk unsur ektrinsik semacam pengambilan gambar dan adegan atau nilai-nilai kehidupan dalam cerita.
Berdasarkan hal tersebut, di sini kita menyadari pentingnya pemahaman terhadap struktur teks ulasan agar tergambar langkah-langkah apa yang harus kita lakukan terkait cara menganalisis teks-teks drama/film tersebut. Pahami bahwa teks ulasan memiliki kelengkapan yang terdiri atas empat struktur, yaitu orientasi ^ tafsiran isi ^ evaluasi ^ rangkuman. Pahami juga ciri kebahasaan yang muncul pada kedua teks tersebut.
Perhatikan
Agar lebih jelasnya, perhatikanlah dua contoh teks ulasan berikut!

Alangkah Indahnya Negeri Ini; Suatu Pujian terhadap Realita Kehidupan Anak-anak Pinggiran Ibu Kota.
1. Dalam film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”, film bernuansa satire kembali diangkat. Film ini bercerita tentang Muluk, seorang pria pengangguran, yang kemudian mendapatkan pekerjaan yang tak biasanya, yaitu mengajar anak-anak yang berprofesi sebagai pencopet di Ibukota. Tugas ini ia dapatkan dari Jarot yang menjadi bos para pencopet cilik tersebut. Muluk meyakinkan Jarot bahwa ia bisa mengelola keuangan dari hasil mencopet dengan imbalan 10 %. Akan tetapi, sebenarnya, dalam hati Muluk, ia ingin mengajarkan anak-anak ini agar beralih profesi. Dengan kedua temannya, Muluk mengajarkan agama, budi pekerti, dan kewarganegaraan. Awalnya, Jarot menolak, tapi kemudian setuju karena Jarot paham bahwa pencopet yang berpendidikan akan lebih lihai dalam menjalankan tugas dan juga tidak mudah tertangkap. Kembali kondisi satire dimunculkan.

2. Film-film yang bernuansa satire dalam perfilman nasional semakin marak. Lihatlah film “Emak Ingin Naik Haji” yang dengan jelas menyindir realita kehidupan sosial antara si miskin yang beroposisi biner dengan si kaya. Hal yang sama terjadi pada cerita dalam Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Proyek wajib belajar yang digembar-gemborkan pemerintah ternyata tidak menyentuh sebagian besar anak-anak di pinggiran Ibukota.

3. Satu hal lagi yang digambarkan dalam film ini adalah betapa terorganisasinya para pencopet itu, hingga ada semacam jobdesk yang berbeda di antara para pencopet. Birokrasi mereka lebih efektif dan efisien untuk dilakukan.

4. Satu hal yang kurang saya terima, karakter Jarot yang terkesan demokratis. Bagi seorang bos, ia seharusnya otoriter dan tidak mudah begitu saja menerima pendapat Muluk. Mungkin karakter Jarot memang sengaja digambarkan semacam itu untuk kembali menunjukkan kuatnya satire yang ditujukan bagi pemimpin-pemimpin negara yang otoriter.

5. Terlepas dari kekurangan di atas, tema film ini begitu segar. Kita sudah bosan menonton film yang bernuansa cinta atau horor. Film-film semacam ini memaksa kita membuka mata terhadap realitas sosial di sekeliling kita.
Kejujuran Sang Pemahat
1. Sandiwara anak-anak “Sang Pemahat” karya Arswendo Atmowiloto berkisah tentang seorang anak pemahat bernama Amat yang tinggal di Desa Kali Putih, kaki Gunung Merapi. Ia memenangkan lomba memahat patung tingkat SD. Sekolah bangga karena mendapatkan prestise, pak guru, kepala sekolah, pak lurah, hingga pak gubernur bangga dengan prestasi Amat. Hanya saja, semua orang tidak tahu bahwa patung tersebut ia buat bersama dengan ayahnya. Pada acara penyerahan penghargaan, Amat mencoba memberanikan diri bersikap jujur mengatakan kecurangannya di hadapan pak lurah sekalipun kakak dan teman-temannya melarang. Kejujurannya membuat ia dijauhi semua orang, baik guru maupun teman, tetapi Amat tidak peduli. Ia bangga memilih bersikap jujur. Akhir cerita memang bahagia. Amat dianggap tidak berbuat curang karena kemenangannya adalah karena sketsanya.

2. Cerita drama karya Arswendo ini memiliki tema yang sederhana. Hal ini sangat beralasan karena cerita ditujukan bagi anak-anak. Jalinan cerita, konflik, dan perkembangan karakternya pun dibangun agar lebih mudah dipahami. Dalam drama ini, anak-anak diajarkan suatu aspek moral, yaitu kejujuran. Suatu hal yang sudah jarang kita temukan. Sistem sekolah yang terkesan lebih mementingkan skor dan nilai membuat anak-anak berlomba mendapatkan hasil yang tinggi apa pun caranya.

3. Cerita ini sangat cocok ditonton oleh anak-anak karena mereka sangat membutuhkan nilai moral yang diajarkan dalam drama ini.

4. Berdasarkan hal tersebut, ada kesan yang begitu mendalam ketika kita menonton drama ini. Drama yang menawarkan pesan moral seperti ini wajib kita apresiasi.

Mari kita bandingkan!
Setelah membaca dua ulasan di atas, kita dapat melihat bahwa teks ulasan memang banyak mengandung kritik dan penilaian. Teks 1 adalah teks ulasan mengenai sebuah film satire berjudul Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Teks ini memiliki tahapan bagian sebagai berikut: bagian 1 adalah orientasi, bagian 2 dan 3 adalah tafsiran isi, dan bagian 4 merupakan evaluasi, lalu bagian 5 berupa rangkuman. Teks 2 adalah teks ulasan mengenai naskah drama dengan struktur sebagai berikut: bagian 1 berisi orientasi, bagian 2 merupakan tafsiran isi, bagian 3 evaluasi, dan bagian 4 adalah rangkuman. Kedua teks ulasan di atas memiliki bagian teks yang lengkap.
Hal yang paling menonjol dalam kedua teks di atas adalah dari sisi tema. Teks 1 mengulas bahwa tema film yang diulas begitu segar dan menarik sambil menunjukkan realita sosial, sedangkan dalam teks 2, dijelaskan bahwa tema drama “Anak Sang Pemahat” begitu sederhana, tetapi kesederhanaannya tidak menjadikan tema ini murahan karena kejujuran memang telah menjadi barang langka di dunia pendidikan kita.
Jika melihat ciri kebahasaan kedua teks ulasan, sama-sama menggunakan:
1. Makna kosakata dan istilah asing
2. Verba
3. Sinonim dan antonim


Poin penting
Beberapa hal yang perlu dibandingkan dalam menganalisis kedua teks ulasan adalah dengan melihat struktur dan ciri kebahasaannya. Saat meliihat struktur, perhatikan penilaian-penilaian yang diberikan oleh pengulas.


tags 
teks ulasan drama dan film
pengertian teks ulasan drama dan film
contoh teks ulasan drama dan film
tujuan teks ulasan drama dan film
struktur teks ulasan drama dan film
kaidah dan ciri kebahasaan teks ulasan drama dan film

Share This :
hanszt

Semoga selalu suport blog ini dengan berkomentar dengan bijak dan membangun