Materi Teks Pantun - Membandingkan Teks Pantun, Gurindam, dan Syair



MEMBANDINGKAN TEKS PANTUN, GURINDAM, DAN SYAIR


Tujuan Pembelajaran


Siswa mampu membandingkan teks pantun baik melalui lisan maupun tulisan. 




sumber: www.flickr.com

Coba bacalah teks berikut ini.
Kalau tuan mandi ke hulu
Ambilkan saya bunga kamboja
Kalau tuan mati dahulu
Nantikan saya di pintu surga
      Apakah kalian tahu teks tersebut? Teks itu menunjukkan salah satu jenis puisi lama. Jika kalian perhatikan, kata-kata yang tersusun dalam teks tersebut memberikan kesan tertentu. Kesan tersebut dapat dirasakan melalui irama yang tercipta saat kalian membacanya.
      Pada larik pertama ada penggunaan kata dengan akhir suku kata yang sama dengan suku kata pada larik ketiga, yakni pada kata hulu dan dahulu. Selain itu, larik kedua terlihat pada kata kamboja dan surga. Kesamaan itu ada pada suku kata atau bunyi huruf akhir saat pengucapan sehingga menghasilkan irama tertentu.
      Dengan memerhatikan rima, kita dapat memahami bahwa puisi lama memiliki aturan tertentu. Rima sangat mengikat dan memiliki rumus tertentu dan teks yang telah kalian baca tersebut merupakan sebuah pantun. Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang memiliki rima a-b-a-b dan terdiri atas empat baris dalam satu bait.
      Selain pantun, ada pula jenis puisi lama lainnya, yakni gurindam dan syair. Lalu, bagaimana kedua puisi lama tersebut? Adakah hal yang dapat dibandingkan antara pantun, gurindam, dan syair?
      Saat membicarakan perbandingan, kita pasti akan melihat sisi perbedaan dan persamaan suatu hal. Begitu pula dalam jenis puisi lama ini. Kita akan belajar untuk membandingkan pantun dengan gurindam dan syair. Agar mudah memahami perbandingannya, mari kita lihat bentuk gurindam dan syair. 


Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa.
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.


      Kita dapat melihat salah satu pasal dari Gurindam Dua Belas yang merupakan karya dari sastrawan Melayu, Raja Ali Haji. Jika dilihat dari bentuknya, gurindam terdiri atas dua baris dalam satu bait. Gurindam berisi nasihat yang mendidik. Gurindam memiliki rima a-a pada setiap baitnya. Selain itu, dalam gurindam terdapat sebab-akibat yang dinyatakan pada baris pertama dan kedua.

      Di samping itu, syair merupakan puisi lama yang terkenal dengan rima a-a-a-a dan memiliki empat baris dalam satu baitnya. Keempat baris tersebut merupakan isi dan pesan serta tidak memiliki sampiran. Jumlah baris dalam syair ini sama dengan pantun. Syair ini biasanya berisi cerita yang panjang. Kita dapat memahaminya melalui Syair Abdul Muluk berikut ini. 


Berhentilah kisah raja Hindustan (a)
Tersebutlah pula suatu perkataan (a)
Abdul Hamid Syah Paduka Sultan (a)
Duduklah Baginda bersuka-sukaan (a)
Abdul Muluk putera Baginda (a)
Besarlah sudah bangsa muda (a)
Cantik majelis usulnya syahda (a)
Tiga belas tahun umurnya ada (a)
Parasnya elok amat sempurna (a)
Petah majelis bijak laksana (a)
Memberi hati bimbang gulana (a)
Kasih kepadanya mulia dan hina (a)


      Setelah memahami pantun, gurindam, dan syair, kita dapat membandingkannya. Kita dapat mulai dengan perbandingan pantun dan gurindam.
Kalau tuan mandi ke hulu
Ambilkan saya bunga kamboja
Kalau tuan mati dahulu
Nantikan saya di pintu surga
Jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa
      Kita dapat membandingkan dengan melihat persamaan dan perbedaannya. Kita dapat memerhatikan dari sisi bentuk yang terlihat jelas berbeda. Empat baris untuk pantun dan dua baris untuk gurindam. Lalu, pantun memiliki sampiran dan gurindam tidak. Perbedaan selanjutnya pada puisi lama ini dapat dilihat dari ciri yang dimiliki masing-masing. Adapun persamaannya tentu sama-sama sebagai bentuk puisi lama, terikat dengan aturan berupa rima atau jumlah suku kata terutama untuk pantun, menyampaikan nasihat terutama dalam pantun nasihat (atau berisi nasihat).
      Di samping itu, kita dapat membandingkan antara pantun dan syair. Hal yang dapat langsung terlihat sama adalah dalam jumlah baris. Pantun dan syair memiliki jumlah baris yang sama tetapi memiliki aturan rima yang berbeda. Tiap baris pantun dan sajak biasanya terdiri atas 8-12 suku kata. Selain itu, syair tidak memiliki sampiran seperti pantun.

Poin Penting


  1. Membandingkan pantun dengan gurindam dan syair dapat dimulai dari bentuk puisi lama tersebut. Bentuk tersebut berupa baris pada setiap baitnya.
  2. Persamaan dan perbedaan pantun dan gurindam adalah:Persamaan a. termasuk ke dalam jenis puisi lama b. terikat dengan aturan rima c. berisi nasihat (pantun nasihat)
    Perbedaan a. jumlah baris yang berbeda dalam setiap baitnya b. memiliki rima yang berbeda c. jumlah suku kata yang berbeda (pantun 8-12 suku kata sedangkan gurindam tidak ditentukan dan pada umumnya ada 10-14 suku kata)

You might also like

0 Comments


EmoticonEmoticon